AMARAH SI SULUNG

Baca: LUKAS 15:11-32


Bacaan tahunan: Ulangan 14-16

Sang adik berlaku durhaka. Ia menuntut hak warisnya saat sang bapa masih hidup, sama saja ia menginginkan kematian bapanya. Lalu ia pergi berfoya-foya dan menjalani hidup yang cemar. Setelah bangkrut, ia kembali. Berharap diterima bekerja sebagai pelayan. Namun, sang bapa malah menyambutnya dengan pesta sukacita dan memulihkan statusnya sebagai anak yang terkasih. Si sulung protes keras. Ia menolak ikut berpesta. Baginya, adiknya itu pantas ditolak serta dibiarkan melarat.

Protes si sulung sepertinya masuk akal. Karena sang adik sudah menerima hak warisnya maka ia tak lagi punya hak di rumah itu. Selama ini, dialah yang bekerja keras mengurus dan bertanggung jawab atas usaha bapanya. Semua harta yang tersisa adalah bagian warisannya. Ia pun marah terhadap kebaikan ayahnya. Baginya, tindakan bapanya adalah kebodohan, serta memalukan. Ia pun tetap bergeming sekalipun sang bapa membujuknya.

Amarah si sulung menunjukkan betapa ia tidak mengenal ayahnya. Tak mengerti kerinduan dan isi hatinya. Hatinya juga jauh dari bapanya. Ia merasa diri benar karena hidup menaati bapanya. Namun, ketaatan itu ia lakukan karena terpaksa. Sebagai kewajiban. Bukan lahir dari hati yang mengasihi sang bapa atau tanda hormat kepadanya. Parahnya, anak sulung itu ternyata adalah saya dan semua orang yang sering merasa diri benar sehingga merasa berhak menolak kehadiran para pendosa. Sang Bapa, yang adalah Allah sendiri, menghendaki agar saya juga mengalami kasih dan kebaikan-Nya, serta rela berbagi kasih dan sukacita itu dengan anak-anak-Nya yang lain. Sukacita-Nya seharusnya menjadi sukacita kita juga. --HT/www.renunganharian.net


JIKA ALLAH MENYAMBUT PERTOBATAN PARA PENDOSA DENGAN TANGAN TERBUKA, SEHARUSNYA KITA JUGA BERLAKU DEMIKIAN DENGAN HATI PENUH SUKACITA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media