Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: KOLOSE 3:18-23
Bacaan tahunan: Ulangan 1-2
"My husband and I divorced over religious differences. He thought he was God, and I didn't, " ujar seseorang (anonim) di internet. Suami saya dan saya bercerai karena masalah keagamaan. Dia menganggap dirinya adalah Tuhan, dan saya tidak. Ujaran itu mengkritik suami otoriter, yang selalu memaksakan kehendak, selalu mau menentukan segalanya, dan ingin istrinya selalu tunduk kepadanya.
Tentu saja tak hanya suami. Istri pun bisa bersikap begitu. Maka, ujaran di atas adalah peringatan bahwa dalam pernikahan, relasi yang ada bisa jadi bukan relasi penuh cinta, bukan relasi egaliter yang mengakui kesetaraan satu sama lain, melainkan relasi yang dipenuhi dan dikendalikan oleh hasrat untuk menguasai, untuk mengendalikan, bahkan menjadikan pasangan sebagai objek. Jelas, itu sama sekali bukan cinta.
Rasul Paulus berpesan, "Hai Istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan" (ay. 18). Pesan ini banyak dimaknai sebagai perintah agar istri tunduk kepada suami. Orang lupa pesan berikutnya, "Hai Suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia" (ay. 19). Orang lupa bahwa esensi seluruh perikop Kolose 3:18-23 (meliputi relasi suami-istri, orang tua-anak, majikan-hamba) sama sekali bukan soal ketundukan pihak satu kepada pihak yang lain, melainkan bahwa semua pihak dan relasi yang ada harus tunduk kepada Tuhan, Sang Cinta.
Demikianlah, relasi suami-istri hendaknya dilandasi cinta, diwarnai kesetaraan dan keadilan karena cinta sejati selalu egaliter, tak pernah tidak. --EE/www.renunganharian.net
CINTA SEJATI SELALU EGALITER. TAK PERNAH TIDAK. -O.S. RAILLE
Please sign-in/login using: