MENJADI SESAMA

Baca: LUKAS 10:25-37


Bacaan tahunan: 2 Samuel 13-15

Perumpamaan orang Samaria yang murah hati dipakai Yesus untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat. Meski Yesus tahu bahwa ahli Taurat itu hanya mencobai-Nya, Ia tetap menjawab dengan hikmat. Kesempatan itu digunakan Yesus untuk mengungkap bahwa sesama tidak terbatas etnis, status, maupun agama. Yesus tidak hanya menjawab pertanyaan secara intelektual, melainkan juga menyingkap isi hati manusia. Termasuk di dalamnya, motivasi ahli Taurat yang ingin mencari pembenaran diri.

Melalui gambaran orang Samaria-yang biasanya dipandang rendah oleh orang Yahudi-Yesus menjadikannya teladan kasih sejati. Yesus menantang sikap eksklusif orang Yahudi dan pemimpin agama yang menguasai hukum Taurat, tetapi tidak menghidupi kasih. Imam dan Lewi (gambaran hukum dan agama) tidak mampu menyelamatkan. Justru orang asing yang tak dianggap (orang Samaria) yang memberi hidup.

Perumpamaan ini memang tidak menyatakan bahwa Yesus adalah orang Samaria (secara eksplisit). Namun, melalui karakter orang Samaria yang mengasihi secara tuntas tanpa pamrih, gambaran hati Yesus ditunjukkan. Yesus adalah pribadi yang datang menolong yang terluka dan terabaikan. Yesus adalah Sang Penyelamat yang tidak terikat oleh batas agama, budaya, atau status. Yesus datang membawa hidup dan kasih sejati, bukan sekadar hukum. Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, melainkan Dia sendirilah kasih itu. Yesus hadir menjadi sesama demi memberi hidup bagi kita, manusia berdosa. Kini, kepada kita Yesus berkata, "Pergilah dan perbuatlah demikian!" --EBL/www.renunganharian.net


KARENA KASIH-NYA, DIA RELA MENJADI SAMA DENGAN MANUSIA AGAR MANUSIA MENGASIHI SESAMANYA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media