Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: LUKAS 15:11-24
Bacaan tahunan: 1 Samuel 1-3
Di kandang babi yang kotor dan bau itu, si bungsu menyadari keadaannya. Bahkan, saat ia ingin memakan ampas makanan babi itu, tak seorang pun memberikannya kepadanya. Ia benar-benar melarat. Lalu ia teringat bapanya, yang telah ia tinggalkan, dan yang hartanya telah ia sia-siakan. Ia merindukan rumah. Ia ingat para upahan bapanya yang selalu memiliki kelimpahan makanan. Namun, ia sadar diri. Ia telah begitu menyakiti bapanya. Ia hanya berharap bahwa ia dapat diterima sebagai salah satu pekerja upahan bapanya. Saat tak ada lagi yang bisa ia harapkan, belas kasihan sang bapalah yang ia harapkan.
Ternyata ia salah. Bukan makian yang ia dapatkan. Bukan kata-kata kasar atau umpatan penghakiman dari sang bapa. Melainkan sebuah rangkulan penuh kerinduan. Pelukan erat dan ciuman penuh kasih. Martabatnya dipulihkan. Ia disambut dengan pesta. Dirayakan dengan sukacita. Dan ia benar-benar sadar, semua itu tidak layak baginya. Sangat tidak layak. Setelah semua kejahatan, dosa, pelanggaran, dan kecemaran yang ia perbuat, ia sungguh tak layak menerima semua kebaikan itu.
Ya, seperti itulah gambaran anugerah yang kita terima dari Allah. Sungguh tidak layak, dan tak akan pernah menjadi cukup layak. Sebagai pendosa, kita seharusnya dihukum dan dibinasakan. Namun, ketika kita datang dengan iman kepada-Nya, Ia menyambut kita dan menjadikan kita sebagai anak-Nya yang terkasih. Kasih-Nya sudah terbukti melalui pengorbanan Kristus bagi penebusan kita. Kita hanya perlu menghampiri-Nya dengan iman. Penerimaan-Nyalah yang menjadikan kita layak menjadi anak-anak-Nya. --HT/www.renunganharian.net
SEBAGAI PENDOSA, KITA TIDAK PERNAH LAYAK DI HADAPAN ALLAH, HANYA ANUGERAH-NYA YANG MENJADIKAN KITA MENJADI SEORANG ANAK.
Please sign-in/login using: