Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: AYUB 5:1-9
Bacaan tahunan: 2 Tawarikh 9-12
Merana, itulah yang dirasakan Ayub setelah berbagai derita yang dialami. Begitu dalam kesedihannya, hingga Ayub tidak dapat berbuat apa pun. Secara imani, ia tidak sanggup untuk menyalahkan Allah. Sekalipun segala harta dan anak-anaknya telah tiada, serta berbagai penyakit dialaminya, juga istrinya mengeluhkan Allah, ia tetap menghormati Allah. Namun, sesungguhnya sisi manusiawinya ingin berteriak untuk melampiaskan perasaannya sehingga ia memilih menyalahkan dirinya sendiri dengan mengutuki hari kelahirannya. Atas sikapnya itu, Elifas menasihatinya untuk mengadukan segala perkara kepada Allah, sebab Allah dapat membuat berbagai hal ajaib untuk menolong umat-Nya.
Sikap iman Ayub memang merupakan sikap yang hebat, tetapi sikap manusiawinya pun merupakan hal yang wajar bagi siapapun yang berduka. Dalam pergumulan itu, nasihat Elifas menunjukkan kekurangan Ayub, di mana ia lupa untuk membawa dan memercayakan pergumulannya kepada Allah. Ayub memang tetap teguh dalam imannya kepada Allah, tetapi dalam sikap iman itu ia justru memilih menanggung pergumulannya seorang diri.
Setiap pergumulan, secara perlahan dan tanpa disadari, akan mengurung hati kita sehingga membuat kita memilih menanggung segala pergumulan seorang diri. Nasihat Elifas menyadarkan kita untuk terus membuka hati dalam setiap pergumulan, untuk mengarahkan hati kepada Allah dan memercayakan hidup kepada-Nya. Sebab Allah mampu merubah yang mustahil dan menyakitkan menjadi sukacita dan kedamaian hidup. --ZDP/www.renunganharian.net
PERCAYAKANLAH HIDUP KEPADA ALLAH, SEBAB IA SENANTIASA MEMBERKATI KITA.
Please sign-in/login using: